Wednesday, 5 November 2014

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN STUDI KASUS PEMASARAN PISANG DI DAERAH LUMAJANG



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dalam bidang pembangunan yang berkaitan dengan bagaimana desa menjadi acuan penting dami meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada masa sekarang lebih lanjut di masa modernisai saat ini. Suatu pembangunan desa saat ini tentunya sudah menjadi sorotan utama yang patut untuk diperhatikan delam mengembangkan potensi yang ada di sebuah negara berkembang khususnya Indonesia. Hal ini juga tidak kalah pentingnya terhadap bagaimana persoalan petani yang hingga kini masih menjadi masalah utama dalam proses pertaniannya, sehingga petani sendiri masih belum mendapatkan kesempatan untuk merubah hidup mereka ke arah yang lebih baik.
Dalam Poju Suharso (2002:8) konsep modernisasi pertanian untuk menyebutkan fenomena komersial dan monetisasi di bidang pertanian sebenarnya telah dikenal cukup lama. Secara historis fenomena modernisasi ini telah berkembang sejak zaman pro kolonial hingga berlanjut pada masa kolonial. Namun, fenomena modernisasi pertanian ini di Indonesia menemukan artikulasinya secara meluas sejak awal tahun 1970-an, tapat ketika negeri ini mengintroduksi ‘revolusi hijau’ dan penetrasi teknologi baru di bidang pertanian (Nasikum, dkk. 1989). Maka dari itu, pembaharuan yang terjadi terutama dalam bidang teknologi serta bagaimana cara pemasaran yang akan menentukan terhadap keberhasilan serta kesejahteraan masyarakat petani pada umumnya dengan kata lain untuk mendukung perkembangan masyarakat pedesaan.

KAJIAN KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP MENURUT KLASIFIKASI STATISTIK INTERNASIONAL STANDAR FAO PADA ALAT TANGKAP JARING KLITIK/ GILL NET DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) PRIGI

 

PROPOSAL

kami tujukan sebagai salah satu syarat dalam pengumpulan Angka Kredit













Oleh :
Achmad Wais, S.St.Pi


SATUAN KERJA PENGAWASAN SUMBERDAYA
KELAUTAN DAN PERIKANAN PRIGI
TAHUN 2013



DAFTAR ISI


PRAKATA  ......................................................................................................................  ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................................  iii
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................................................  iv
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................  1
I.1  Latar Belakang Masalah ............................................................................................  1
I.2. Maksud dan Batasannya ...........................................................................................  1
I.3. Tujuan .........................................................................................................................  2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................  4
II,1. Alat Tangkap Gill net/Jaring Insang........................................................................... 4
II.2. Alat Tangkap Ramah Lingkungan............................................................................. 7
II.3. Kriteria Alat Tangkap Ikan yang Ramah Lingkungan ...............................................  8
II.4. Desain Alat Tangkap Gill net .....................................................................................  12
II.5. Penentuan Ukuran Mata Jaring Gill net ....................................................................  14
II.6.Perakitan dan Pemasangan Jaring Gill net ...............................................................  16
BAB III METODOLOGI PENELITIAN............................................................................ 18
III.1  jenis Penelitian ..........................................................................................................  18
III.2  waktu dan tempat .....................................................................................................  18
III.3  Alat dan Bahan .........................................................................................................  18


DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................  19




CONTOH PROPOSAL KAJIAN MUSIM PENANGKAPAN IKAN TUNA DENGAN ALAT TANGKAP HAND LINE DI LAUT MALUKU


  
                                  
PENDAHULUAN

Indonesia mempunyai sumberdaya ikan yang berpotensi dari segi jumlah dan jenisnya. Salah satu sumber hayati laut di Indonesia adalah perikanan tuna yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi sehingga tuna dapat dijadikan salah satu andalan ekspor non migas dari sektor perikanan. Potensi perikanan tuna di Indonesia menurut Komisi Nasional Pengkajian Stok cukup besar sedangkan beberapa daerah tertentu tingkat pemanfaatannya masih rendah. Meskipun tingkat pemanfaatan ikan tuna di Indonesia sampai saat ini dapat dikatakan masih di bawah Total Allowable Catch (TAC) atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan, namun pengelolaan sejak dini sangat dibutuhkan mengingat sifat dari ikan tuna tergolong peruaya jarak jauh (Luasunaung, 2006). Dari semua alat tangkap yang digunakan Musim penangkapan tuna dengan hand line di Laut Maluku Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap 1(1): 6-9, Juni 2012 7menangkap tuna, alat tangkap long line, dan hand line merupakan alat tangkap yang paling banyak jumlah penggunaannya.
Salah satu cara meningkatkan produksi tuna adalah melalui peningkatan unit upaya (effort) yaitu dengan mengerahkan unit atau armada penangkapan ikan menuju lokasi yang diduga padat populasinya. Agar tetap terjaga kelestariannya diperlukan pengelolaan secara rasional yaitu meliputi pendugaan musim ikan dan bagaimana perubahannya sebagai respon dari kegiatan eksploitasi.
Tulisan ini membahas mengenai periode musim penangkapan ikan tuna di perairan Laut Maluku, berdasarkan hasil tangkapan dan jumlah trip penangkapan per bulan dengan alat tangkap tuna hand line. Lokasi pengambilan data yaitu di Pelabuhan Perikanan Samudra Bitung (PPS) selang waktu tahun 2007- 2011.

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TENTANG EFEKTIVITAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERIKANAN BUDIDAYA DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI WILAYAH PESISIR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA



A. Pendahuluan
Negara Republik Indonesia sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memiliki kedaulatan yurisdiksi atas wilayah perairan Indonesia, serta kewenangan dalam menetapkan pengaturan tentang pemanfaatan sumber daya ikan, baik untuk penangkapan maupun pembudidayaan ikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Namun pemanfaatan sumber daya ikan harus tetap memperhatikan prinsip kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya serta kesinambungan pembangunan perikanan nasional secara berkelanjutan.
Pembudidayaan perikanan merupakan fokus pembangunan wilayah pesisir dalam program pembangunan nasional ke depan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir. Mengingat secara de facto bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan luas laut sekitar 3,1 juta km2 (0,3 juta km2 perairan teritorial; dan 2,8 juta km2 perairan nusantara) atau 62% dari luas teritorialnya.
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hukum Laut Tahun 1982 yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 1985 tentang pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982, menempatkan Indonesia memiliki hak berdaulat (sovereign rights) untuk melakukan pemanfaatan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya ikan di Zona Ekonomi Ekskluisf (ZEE) Indonesia, dan Laut Lepas yang dilaksanakan berdasarkan persyaratan atau standar internasional yang berlaku.
Indonesia diberi hak kewenangan memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif seluas 2,7 juta km2 yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan sumber daya hayati dan non hayati, penelitian, dan yuridikasi mendirikan instalasi atau pulau buatan. Batas ZEE ini adalah 200 mil dari garis pantai pada surut terendah. Disamping itu, wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alamnya, baik sumber daya alam yang dapat pulih maupun sumber daya alam yang tidak dapat pulih. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar di dunia, karena memiliki ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, yang sangat luas dan beragam yang menjadi tempat pembudidayaan perikanan.

PEMANTAUAN KADAR LOGAM BERAT MERKURI (Hg), KADMIUM (Cd), DAN TIMBAL (Pb) YANG TERKANDUNG DALAM DAGING KERANG HIJAU (Perna viridis Linn) YANG BERASAL DARI PERAIRAN TELUK JAKARTA



Oleh : Ahmad Dwi Kurniawan,S.Pi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Pembangunan yang pesat di bidang industri di satu sisi akan meningkatkan kualitas hidup manusia yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi di lain sisi akan menurunkan tingkat kesehatan masyarakat akibat limbah  dan pencemaran yang ditimbulkan oleh industri-industri dan rumah tangga. Salah satu pencemaran air adalah masuknya logam berat dalam perairan. Peningkatan kadar logam berat ini dalam perairan akan mencemari organisme yang hidup di perairan tersebut seperti kerang, ikan dan biota lainnya. Pemanfaatan biota ini sebagai bahan konsumsi makanan akan membahayakan kesehatan manusia
Kerang Hijau (Perna viridis Linn.) merupakan salah satu komoditi perika
nan yang sudah lama
Kerang Hijau (Perna viridis Linn.) merupakan salah satu komoditi perikanan yang sudah lama
Kerang Hijau (Perna viridis Linn.) merupakan salah satu komoditi perikanan yang sudah lama dikenal dan dewasa ini kerang jenis tersebut telah banyak dibudidayakan. Teknik budidayanya mudah dikerjakan, tidak memerlukan modal yang besar dan dapat dipanen setelah berumur 6-7 bulan. Hasil panen Kerang Hijau per hektar per tahun dapat mencapai 200-300 ton kerang utuh atau sekitar 60-100 ton daging kerang (Porsepwandi, 1998).
Hutagalung (1991), menyatakan kandungan logam berat tertinggi ditemukan pada jenis kerang-kerangan karena organisme ini merupakan organisme invertebrata filter feeder dan hidup menetap. Selanjutnya Hutagalung (1991), menyatakan bahwa kandungan logam berat dalam daging organisme perairan biasanya lebih tinggi daripada kandungan logam berat pada perairannya sendiri, karena logam berat tersebut akan terakumulasi di dalam dagingnya.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka perlu adanya suatu upaya untuk menurunkan kandungan logam berat pada daging Kerang Hijau sehingga pengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya dapat dicegah secara dini. Logam berat Hg, Cd, dan Pb diambil sebagai logam berat yang direduksi karena menurut Hutagalung (1991), ketiga logam berat ini mempunyai tingkat toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan logam berat lainnya serta menurut SNI batas maksimal Hg yang ada pada bahan baku merupakan batas maksimal terkecil dibandingkan dengan jenis logam berat lain yaitu sebesar 0,5 mg/kg.

CONTOH PROPOSAL STUDI PERIKANAN TANGKAP PAYANG LEMURU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) PRIGI TRENGGALEK JAWA TIMUR

Oleh : RIZKHA AYUDYA YULIASARI

K2C 009 039

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
 2011
I. PENDAHULUAN
 1.1. Latar Belakang
Jawa Timur merupakan propinsi di Indonesia yang kawasan lautnya hampir empat kali luas daratan, dengan 74 pulau kecil dengan garis pantai sepanjang 1.600 km. Produksi perikanan laut Jawa Timur pada tahun 2007 sebesar 796.640 ton per tahun atau 16,19 % dari total produksi perikanan laut Indonesia sebesar 4.942.430 ton. Hal tersebut menunjukkan bahwa sumbangan perikanan laut Jawa Timur cukup besar bagi total produksi perikanan laut Indonesia (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2008). Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang terletak di bagian selatan dari wilayah Propinsi Jawa Timur pada koordinat 111ο 24’ – 112ο 11’ BT dan 70ο 63’ – 80ο 34’ LS. Di Kabupaten Trenggalek ini terdapat PPN Prigi. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi adalah unit pelaksana teknis bidang pelabuhan perikanan yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Jendral Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Pelabuhan perikanan ini bertugas melaksanakan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya, pengawasan pemanafaatan sumberdaya untuk pelestarian dan kegiatan kelancaran kapal perikanan serta pelayanan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan.
 1.2. Perumusan Masalah
Alat tangkap Payang merupakan alat tangkap yang dioperasikan di permukaan peraiaran. Konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, tetapi tidak menggunakan otter board. Pengoperasian Payang dilakukan pada permukaan perairan. Payang mempunyai tingkat selektifitas yang rendah disebabkan penggunaan mesh size yang kecil, sehingga dapat menangkap ikan-ikan kecil seperti Teri sampai ikan yang berukuran lebih besar seperti Tongkol dan sebagainya. Alat tangkap Payang di PPN Prigi banyak dioperasikan dengan kapal-kapal berukuran kurang dari 30 GT dengan jumlah trip yang umumnya one day fishing. Payang secara ekonomis termasuk alat tangkap yang menguntungkan karena menghasilkan tangkapan ikan yang bernilai ekonomis tinggi seperti Teri Nasi dan juga dapat untuk menangkap ikan-ikan besar semacam Tongkol, Tenggiri dan sebagainya. Pengoperasiannya dimulai dengan penurunan atau penebaran jaring (setting), immersing, kemudian dilanjutkan dengan penarikan jaring (hauling), hingga akhirnya ikan terkumpul dan kemudian jaring diangkat. Selanjutnya ikan akan diambil dan dimasukkan ke dalam palka.